PEMANFAATAN ECO ENZYME MELALUI AKSI NYATA GESIT EKOLAR BERLANDASKAN TRI HITA KARANA DI SD NEGERI 2 KESIMAN


PEMANFAATAN ECO ENZYME MELALUI AKSI NYATA GESIT EKOLAR BERLANDASKAN TRI HITA KARANA DI SD NEGERI 2 KESIMAN

Oleh: Putu Devi Mas Wulandari, S.Pd.

Keberadaan sampah oleh sebagian besar orang masih dipandang sebagai barang sisa yang harus dibuang dan tidak mempunyai nilai manfaat lagi. Rendahnya tingkat kesadaran dan budaya masyarakat dalam pengelolaan sampah, penegakan regulasi tentang persampahan oleh pemerintah yang dirasa belum optimal, terbatasnya lahan untuk tempat pembuangan akhir serta paradigma masyarakat dalam memandang sampah sebagai barang sisa yang “bukan menjadi urusan saya” menjadi akar permasalahan belum terkelolanya sampah dengan baik. Penanganan masalah sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi harus melibatkan semua elemen yaitu; masyarakat, pemerintah maupun swasta (Riyanto, 2020). Pemerintah Provinsi Bali melalui Peraturan Gubernur Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber salah satu poinnya menegaskan bahwa sangat perlu dilakukan pengelolaan sampah pasar, rumah tangga, sekolah dan perkantoran (Kubontubuh, 2019). Sekolah berpengaruh besar terhadap timbulan sampah yang bermuara ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) baik itu sampah organik maupun anorganik. Dominasi sampah yang dihasilkan adalah sampah organik sehingga perlu upaya yang lebih serius dalam penanganan dan pengurangan sampah organik.

Inovasi yang dilakukan bertujuan untuk menjaga keharmonisan manusia dengan tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama, seperti: kesucian, keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan lingkungan hidup, mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat timbulan sampah, menjaga ekosistem, menjamin kesehatan masyarakat, hingga menjamin generasi masa depan masih dapat menikmati alam yang bersih dan sehat, serta sumber air yang layak. Dalam implementasinya, salah satu tawaran konsep alternatif yang muncul sebagai konsep ekonomi adalah model Circular Economy (CE). Perubahan konsep dari linier economy menjadi circular economy menjadi keharusan untuk menyelesaikan persoalan krisis yang dihadapi oleh dunia. Hingga saat ini upaya untuk menyelesaikan persoalan krisis degradasi lingkungan telah banyak dilakukan, salah satu aktivitas yang dianggap sebagai kontributor dari degradasi lingkungan adalah aktivitas perekonomian.

Sekolah sebagai tempat berkumpulnya banyak orang dapat menjadi penghasil sampah terbesar selain pasar, rumah tangga, industri dan perkantoran. Di lingkungan sekolah, pengelolaan sampah membutuhkan yang perhatian serius. Dengan komposisi sebagian besar penghuninya adalah anak-anak tidak menutup kemungkinan pengelolaannya pun belum optimal (Saraswati et al., 2022). Merujuk fakta bahwa sampah organik merupakan jenis sampah yang mendominasi di dunia, dengan demikian perlu upaya yang lebih serius dalam penanganan dan pengurangan sampah organik khususnya dilingkungan sekolah. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan akibat sampah organik yang tidak terkelola dengan baik, yaitu mulai dari pencemaran lingkungan hingga menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya pemanasan global akibat gas metan yang dihasilkan ke atmosfer (Armi & Mandasari, 2017). Hal ini karena tidak ada solusi yang konkrit terhadap pengolahan sampah organic selain menjadi kompos.Persepsi buruk tentang sampah organic juga menjadi kendala karena baunya yang tidak enak. Hal ini menjadi salah satu permasalahan sulitnya mengolah pupuk kompos dengan ideal dan hanya diolah pada tempat pengolahan pupuk.

Salah satu solusi yang dilaukan yaitu melakukan inovasi dalam mengolah sampah khususnya organic yang bernilai ekonomis yaitu pengolahan sampah organik menjadi Eco Enzyme. Metode ini diperkenalkan lebih luas ke masyarakat oleh Dr. Joean Oon, seorang Naturopathi dari Penang Malaysia (Armi & Mandasari, 2017). Sampah organik berupa kulit buah, daging buah yang tidak dimanfaatkan, potongan sayur, ditampung pada wadah/tong lalu dicampurkan dengan cariran pengurai. SD Negeri 2 Kesiman merupakan salah satu sekolah yang telah menerapkan aksi nyata ekonomi sirkular pengolahan sampah berbasis Eco Enzym. SD Negeri 2 Kesiman mulai menerapkan pengolahan sampah berbasis Eco Enzym sejak awal tahun 2022. Pengolahan sampah berbasis Eco Enzym menjadi salah satu penyelesaian masalah sampah khususnya sampah organik yang setiap hari membludak karena siswa sudah sekolah tatap muka. Pengolahan sampah berbasis Eco Enzym juga bernilai jual sehingga menjadikan salah satu wujud penerapan kewirausahaan. Sehingga, melalui program ini, warga sekolah dapat saling bergotong royong dalam melaksanakan pengolahan sampah. Program ini diharapkan berguna untuk mengaktualisasikan serta mengekspresikan keahlian yang dikuasai secara kreatif agar kegiatan pembuatan produk yang dapat bernilai ekonomis. Eco Enzyme merupakan zat pengurai yang memiliki sifat ramah lingkungan karena prosesnya melibatkan metabolisme bakteri (respirasi anaerob) yang secara alami terkandung dalam kulit buah, sayuran, sisa makanan dan akan menghasilkan enzim microorganism berupa asam asetat/alcohol (Armi & Mandasari, 2017; Syofyan et al., 2019). Lama pembuatan Eco Enzyme adalah 3 bulan di wilayah tropis, dan 6bulan di sub-tropis. Hasil akhirnya adalah cairan berwarna kecoklatan dengan aroma asam segar. Hasil Eco Enzyme dapat dikatakan baik apabila pH dibawah 4,0 dan beraroma asam segar.

SD Negeri 2 Kesiman telah menyediakan alat tampung untuk memproses pengolahan pupuk organic cair yang lebih besar sehingga bisa lebih banyak memproduksi pupuk cair organic. Adapun impelentasi yang dilakukan yaitu dimulai dengan memilah sampah terlebih daluhu, Sekolah menyediakan tempat sampah yang memadai dan berbeda berdasakan jenis sampahnya. Setiap hari, guru mensosialisasikan kepada siswa agar membuang sampah sesuai dengan jenisnya pada tempat sampah yang telah disediakan. Sebagai hasil tindak lanjut, siswa menjadi paham gunanya memilah sampah dan membuang sampah pada tempat yang benar. Kemudian, guru dan siswa bekerjasama untuk membawa sampah organic ke tempat pengolahan sampah. Racikan fermentasi Eco Enzym secara berkala dibuat oleh salah satu guru untuk dipakai dalam mengolah sampah organic. Sampah yang telah diolah biasanya berubah menjadi pupuk organic cair dalam waktu 3-4 minggu. Hasil dari pengolahan sampah organic mencari pupuk cair organic kemudian dijual dan ditabung ke Bank Sampah yang dinaungi oleh Bali Wastu.


Gambar 1. Membuang Sampah Sesuai Jenisnya


Gambar 2. Mengolah Sampah Organik Berbasis Eco Enzym

Pengolahan sampah organic berbasis Eco Enzym memiliki sifat ramah lingkungan. Tentu tidak ada resiko merusak lingkungan yang muncul. Apabila kita melihat pada aspek filsafah Tri Hita Karana, pengolahan sampah organic berbasis Eco Enzym merupakan salah satu contoh kelarasan hubungan manusia dengan sang pencipta, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan sesama. Wujud keselarasan hubungan manusia dengan tuhan dapat dilihat dari cara kita sadar akan bahaya sampah. Dengan membuang sampah pada tempat yang benar dan mengolah sampah yang sudah kita hasilkan telah menunjukan rasa peduli dan cinta kita terhadap lingkungan. Mencintai lingkungan merupakan salah satu contoh rasa terima kasih kita dengan Tuhan. Kemudian, wujud keselarasan kita dengan lingkungan dapat dilihat dari upaya yang kita lakukan dengan meminimalisir sampah yang membludak dengan mendaur ulang kembali sampah yang kita hasilkan. Sampah yang telah diolah menjadi pupuk organik cair tentuk memberikan dampak yang sangat positif untuk kehidupan tamanan. Pupuk merupakan makanan bagi tumbuhan, sehingga apabila kita memberi pupuk kepada tanaman, ia akan tumbuh dengan sehat dan lebat. Aksi nyata yang dilakukan dalam pemanfaatan POC (Pupuk Organik Cair) adalah sebagai pupuk tanaman siswa kelas 1, 4 dan 5. Selain dijual kepada pengepul, beberapa liter pupuk juga digunakan untuk menyiram tanaman di sekolah. Terakhir yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia. Keharmonisan hubungan manusia dengan sesama dapat dilihat dari inovasi yang telah kita lakukan dalam mengolah sampah organic. Sampah organic apabila ditimbun akan memunculkan gas metana yang berbahaya bagi kehidupan manusi dan lingkungan.

Gambar 3. Hasil Pupuk Organik Cair




Gambar 4. Pemanfaatan POC Untuk Tanaman Cabai dan Daun Bawang Siswa

Selain itu, pada aspek kewirausahaan, mengolah pupuk organic dapat membantu kehidupan manusia dalam ranah sosial. Kita dapat menjual pupuk cair organic yang telah dihasilkan kepada petani agar hasil panennya meningkat. Selama menerapkan sampah berbasis Eco Enzym, belum ada kendala rumit yang kami hadapi. Guru dan siswa saling bekerjasama dalam menerapkan program ini. Hasilnya, sudah ada pundi rupiah yang ditabungkan dari hasil pengolahan sampah. Prospek jangka Panjang sangat meyakinkan dan program ini tetap akan dilaksanakan pada tahun – tahun kedepan.

Selain rumah tangga, sekolah berpengaruh besar terhadap timbulan sampah. Penerapan pengolahan sampah organic berbasis Eco Enzyme merupakan salah satu wujud aksi nyata Ekonomi Sirkular serta wujud keselarasan hidup manusia atau yang sering kita sebut dengan Tri Hita Karana. Di SD Negeri 2 Kesiman, pengolahan sampah organic berbasis Eco Enzym juga menjadi program kewirausahaan yang diharapkan memberikan dampak yang baik bagi siswa dan membangun jiwa kewirausahaan dan memiliki manfaat bagi tanaman siswa di lingkungan SD Negeri 2 Kesiman.





DAFTAR PUSTAKA

Armi, & Mandasari, D. (2017). Pengelolaan Sampah Organik menjadi Gas Metana. Serambi Saintia, V(1), 1–11.

Diah Ayu Saraswati, Diva Novi Sandrian, Indah Nazulfah, Nurmanita Tanzil Abida, Nurul Azmina, Riza Indriyani, & Septionita Suryaningsih. (2022). Analisis Kegiatan P5 di SMA Negeri 4 Kota Tangerang sebagai Penerapan Pembelajaran Terdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka. JURNAL PENDIDIKAN MIPA, 12(2), 185–191. https://doi.org/10.37630/jpm.v12i2.578

Ekapria Dharana Kubontubuh. (2019). Bali Bebas Sampah
Plastik (Munuju Clean and Green Island". Bali Membangun Bali: Jurnal Pappeda Litbang, 2(1), 41–46.

Riyanto. (2020). Literasi sebagai Upaya Penanaman KarakterPeduli Lingkungan Melalui Kegiatan Taman Bacaan Masyarakat. Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 4(1), 2020–2065.

Syofyan, H., Susanto, R., Vebryanti, Ramadhanti, D., Dwiyanti, K., Oktavia, H., & Nur Athifah, A. (2019). LITERASI SAINS PENYULUHAN PENGELOLAAN SAMPAH UNTUK SISWA SDS HATI KUDUS JAKARTA. Literasi Sains Penyuluhan Pengelolaan Sampah Untuk Siswa SDS Hati Kudus Jakarta Jurnal Abdimas, 5, 217. 







Comments